Cerita Legenda Asal Usul Dewi Lanjar

Cerita Legenda Asal Usul Dewi Lanjar. Pada jaman dahulu kala di Pekalongan terdapat sebuah kadipaten yang merupakan wilayah Kasultanan Mataram. Kadipaten ini dipimpin oleh seorang adipati yang pertama memerintah di Kadipaten Pekalongan. Adipati itu memerintah dengan arif dan bijaksana sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya.

Tersebutlah seorang gadis berparas cantik jelita bernama Siti Khatijah, puteri dari Sang Adipati Pekalongan. Karena kecantikannya yang telah tersohor, banyak pemuda yang tertarik untuk meminangnya. Sang Adipati pun bertindak cepat dengan berusaha menjodohkan puteri kesayangannya dengan pangeran pilihan Sang Adipati.

Cerita Legenda Asal Usul Dewi Lanjar
Siti Khatijahdipaksa menuruti kehendak Sang Ayah walaupun dia tidak menyukai perjodohannya. Siti Kahdijah sebagai seorang anak yang berbakti berusaha tegar menghadapi perjodohan hingga tibalah saat dimana pesta pernikahan dilangsungkan. Tetapi hati Siti Khatijah tidak bisa dibohongi, ia tidak bisa menerima pilihan Sang Ayah sehingga akhirnya memilih pergi meninggalkan istana. Dalam kebimbangannya Siti Khatijah berjalan menuju utara hingga sampailah dia di sebuah pantai yang sekarang bernama Pantai Slamaran.

Cerita Legenda Asal Usul Dewi Lanjar oleh Masyarakat aseli Pekalongan

Hal ini senada dengan pernyataan hasil wawancara denganjuru kunci pesanggrahan Dewi Lanjar di Pantai Slamaran, Bapak Absori (37 tahun)

Ibu Dewi Lanjar piyantun Pekalongan asli putra putrinipun Bupati Pekalongan pertama. Nami aslinipun Siti Khatijah. Ibu Dewi Lanjar dijodohkan orang tua seperti jaman Siti Nurbaya tetapi gak mau. Tapi namanya anak mau gak mau harus nurut dengan pilihan orang tuanya. Karena Ibu Dewi Lanjar itu kerabat Keraton kalo jaman sekarang ya ada resepsian gitu ya, tapi Ibu Dewi Lanjar tetap tidak mau akhirnya kabur dari rumah ke arah utara tepatnya di pantai ini (Slamaran) .(Wawancara tanggal 2 Junitahun 2012)

Di tepi Pantai Slamaran, Siti Khatijah terus berjalan dengan tetap memakai baju pengantinnya. Tanpa disadari Siti Khatijah, ada seorang nelayan yang melihatnya hingga nelayan tersebut hanya tercengang ketika Siti Khatijah berjalan di atas lautan tanpa tenggelam hingga menuju tengah lautan. Berita menghebohkan inipun sampailah di telinga Sang Adipati.

Sang Adipati segera memerintahkan pasukannya untuk mencari puterinya sampai ditemukan. Akan tetapi, pencarian selama tiga hari tiga malam itu tidak membuahkan hasil. Sang Adipati yang terlanjur malu atas kaburnya Siti Khatijah dalam pesta pernikahannya pun memutuskan mengumumkan bahwa Siti Khatijah telah meninggal.

Sesuai tradisi Islam, Sang Adipati memerintahkan mengadakan tahlilan untuk mendoakan Siti Khatijah yang telah meninggal. Pada malam ke-7 tahlilan, Siti Khatijah mendatangi istana Kadipaten Pekalongan dan berpesan bahwa dia tidak meninggal tetapi masih hidup di alam ghaib.

Hal ini senada dengan pernyataan hasil wawancara dengan juru kunci pesanggrahan Dewi Lanjar di Pantai Slamaran, Bapak Absori (37 tahun)

Lha di pinggir pantai ini sore hari ada seorang nelayan melihat kok ada perempuan cantik pakai baju pengantin lari di tepi pantai bahkan sampai masuk ke laut tapi gak tenggelamlah gak mati. Nah warga sekitar Pekalongan dari pihak keluarga Keraton mencari kesana kemari gak ketemu selama 3 hari 3 malam akhirnya pihak keluarga memutuskan mengabari kalo calon pengantin perempuan meninggal. Lha karena di Pekalongan ini kalo ada orang yang meninggal itu ada tahlilan sampai 7 hari kirim doa itu pas 7 harinya Ibu Dewi Lanjar dateng tapi udah di alam gaib. (Wawancara tanggal 2 Junitahun 2012)

Siti Khatijah yang mendatangi istana Kadipaten Pekalongan berpesan kepada seluruh keluarganya agar rakyat sekitar Kadipaten Pekalongan yang mengalami kesulitan dalam kehidupan untuk dibantunya apabila mau menemuinya. Akan tetapi, Siti Khadijah melarang rakyat Kadipaten Pekalongan untuk meminta kepadanya dengan alasan rakyatnya telah menikmati segala nikmat duniawi dengan melimpahnya hasil bumi masyarakatnya.

Mendengar kabar bangkitnya Siti Khadijah dengan kesaktian yang dapat mengabulkan keinginan seseorang, rakyat Pekalongan banyak yang mempercayai bahwa sosok Siti Khadijah merupakan makhluk ghaib yang sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Dewi Lanjar.

Rakyat Pekalongan menyebut Siti Khadijah dengan sebutan Dewi Lanjar karena dalam bahasa Pekalongan Lanjar berarti seorang gadis yang menikah tetapi belum sempat berhubungan badan dengan suaminya.

Hal ini senada dengan pernyataan hasil wawancara dengan petugas tiket Pantai Slamaran (Dinas Pariwisata dan Perhubungan Pekalongan), Bapak Casmadi (48 tahun)

Ibu Siti Khatijah pesen saya ini belum meninggal jadi masih hidup tapi pindah alam lha dari warga sekitar Pekalongan kalo mengalami kesulitan ekonomi masalah duniawi Insya Allah atas ijin Allah saya bisa bantu.

Makanya orang-orang jaman sekarang mengira Ibu Dewi Lanjar itu seolah-olah makhluk ghaib macem jin atau setan padahal Ibu Dewi Lanjar hanya manusia biasa. Lha bisanya dipanggil Ibu Dewi Lanjar lha itulah tadi semacam orang yang sudah menikah tapi belum berhubungan itu kalo di Pekalongan disebut Lanjar.(Wawancara tanggal 2 Juni 2012)

Bagi sebagian warga yang percaya, Dewi Lanjar memberikan satu kepercayaan untuk mendatangkan berkah, ngalap berkah adalah salah satu jalan untuk menuju satu keinginan baik rejeki secara material ataupun non material. Banyak cara yang ditempuh orang-orang untuk mendapatkan berkah itu, ada yang menginap hingga berhari-hari, ada yang bertapa, ada yang sekedar berdoa, bahkan dengan media air mineral. Semua orang yang datang di ritus atau pesanggrahan yang diyakini adalah pesanggrahan

Dewi Lanjar, memiliki keyakinan sendiri-sendiri dan bermacam-macam. Meskipun ada yang sudah diberikan penjelasan bahwa meminta secara langsung kepada Dewi Lanjar adalah salah satu bentuk kemusyrikan namun masih banyak melakukan hal itu. Namun tidak sedikit pula yang berdoa langsung kepada tuhan melalui perantara dan tempat pesanggrahan tersebut.

Dewi Lanjar memiliki pengaruh yang kuat unutuk mesyarakat yang mempercayai keberadaanya, dan dianggap memiliki daerah kekuasaan dan kerajaan yang tidak hanya sebatas pada wilayah Slamaran Pekalongan saja akan tetapi sepanjang pantai utara pulau Jawa dari Cirebon hingga Rembang.

Bahkan tidak sedikit yang mempercayai bahwa Dewi Lanjar memiliki hubungan langsung dengan penguasa pantai selatan Jawa, Nyi Roro Kidul.

Hal ini senada dengan pernyataan hasil wawancara dengan pemilik warung daerah Pantai Slamaran, Kunariyah (36 tahun)

Tapi cerita lain mengatakan Ibu Dewi Lanjar itu semacam kaya kita minta pertolongan itu yang mengayomi semacam memberi pager dari sepanjang pantai utara dari Rembang sampai Cirebon intinya itu dari Pekalongan.

Ibu Dewi Lanjar dan Nyi Roro Kidul itu masih ada hubungan keluarga malah Nyi Roro Kidul itu yang tua Ibu Dewi Lanjar yang muda ya kakak beradiklah makanya kalo orang habis dari Parangtritis mesti dapet petunjuk udah kamu lari aja ke adek saya mesti larinya ke Pekalongan.(Wawancara tanggal 2Juni 2012)

Baca juga Mitos legenda Asal-usul Nyi Roro Kidul

Bagi rakyat Pekalongan mitos tentang Dewi Lanjar merupakan suatu warisan kebudayaan dan kepercayaan yang harus tetap dijaga kelestarianya. Banyak yang percaya bahwa Dewi Lanjar merupakan salah satu tokoh nyata yang tidak hanya sekedar makhluk mistis, Dewi Lanjar dipercaya memiliki kekuatan untuk menjaga kehidupan secara mikro kosmos ataupun makro kosmos, dipercaya pula bahwa Dewi Lanjar adalah tokoh spiritual keagamaan yang memiliki sejarah panjang setara dengan wali Songo, dari itu Dewi Lanjar juga memiliki titel hajjah sebagai titel keagamaan Islam.

Hal ini senada dengan pernyataan hasil wawancara dengan petugas tiket Pantai Slamaran (Dinas Pariwisata dan Perhubungan Pekalongan), Bapak Casmadi (48 tahun)

Ibu Dewi Lanjar itu dulu waktu diceritakan bapak saya pernah naik haji tapi gak tau tahun kapan. Bapak saya saja juga gak tau namanya saja nerusin dari orang tuanya.(Wawancara tanggal 2Junitahun 2012. Source sejarah dan legenda pekalongan

Terimakasih telah membaca artikel | Cerita Legenda Asal Usul Dewi Lanjar | Silahkan boleh di Share.

Related Articles :