November 30, 2016

Catatan kegagalan menggapai Gunung Rogojembangan Pekalongan 2117 MDPL

Catatan kegagalan menggapai gunung Rogojembangan Pekalongan 2117 MDPL. Pepatah lama mengatakan Kegagalan adalah awal keberhasilan, terimalah kegagalan kita menggapai puncak Gunung Rogojembangan  Pekalongan  kali ini dengan jiwa yang besar dan merdeka!, Merdeka!. Cayo Indonesia.

"Aku merasa mendengar suara, menutupi jalan, menghentikan petualangan". 

Penggalan lirik lagu Ebiet G Ade diatas seakan-akan menampar keras atas kegagalan kami, sebuah pelajaran yang berarti untuk meniti petualangan selanjutnya dan masa depan. Hari itu, Sabtu tanggal 28 November 2016, pukul 09:00 pagi, bertempat di rumah saya Desa Rowokembu Kecamatan Wonopringgo, rombongan kami berkumpul dengan gembira, sudah tidak sabar sepertinya untuk segera bergerak menghujamkan kaki menuju trek pendakian Gunung Rogojembangan, iya itulah tujuan kami.

Gunung Rogojembangan  Pekalongan
Gunung Rogojembangan  Pekalongan  2117 MDPL

Gunung Rogojembangan pekalongan 2117 mdpl, terletak di perbatasan Kabupaten Pekalongan dan kabupaten Banjarnegara, merupakan puncak tertingi di Pekalongan. Gunung dengan vegetasi tanaman yang masih liar ini kabarnya adalah gunung keramat, dimana di atas gunung tersebut terdapat sumur yang menurut kepercayaan masyarakat sekitar adalah sumur peninggalan para wali, tempat bersuci (berwudhu) para wali, juga pernah dikunjungi oleh Pak Karno (bung Karno, presiden R.I pertama).

Puncak Rogojembangan terdapat sebuah "Jembangan" atau sebuah tempat penamlunan air berbentuk kawah. Flora dan Fauna disana juga masih lestari, terdapat monyet, harimau kumbang, elang jawa, owa Jawa, burung rangkong, juga flora kantung semar.

Pendakian Gunung Rogojembangan  Pekalongan  2117 MDPL

Perjalanan pendakian Kami dari Wonopringgo sampai desa Gumelem base camp pendakian gunung Rogojembangan selama 5 jam, pukul 14:30 siang akhirnya kami sampai di Desa Gumelem. Segera kami turun menuju kediaman bapak Pari selaku Polisi Desa dan yang mengurus keperluan registrasi pendakian kami, Registrasi setiap orang Rp 5000, bapak Pari menemui kami dengan keramahan khas masyarakat pedesaan, bapak Pari menceritakan dengan detail sejarah dan legenda yang menyelimuti gunung Rogojembangan, tidak lupa beliau memberi wejangan tentang pantangan atau larangan selama pendakian, kami pun mengangguk seraya berkata dalam hati bahwa kultur masyarakat disini memang masih lestari, lazimnya masyarakat pedesaan dan pegunungan. Senyuman sumringah masyarakat sekitar semakin melecut semangat kami menaklukan gunung Rogojembangan, tetapi Tuhan berkehendak lain.

Akhirnya setelah bermusyawarah kami putuskan berangkat mendaki, jarum jam menunjukkan pukul 15:00 sore, kabut tebal turun bersamaan dengan hujan menderu. Rombongan kami dengan yakin dan Bismillah akhirnya melangkahkan kaki. Dengan kendaraan Mitsubishi L300 yang termasyur bandel menaklukan medan off road akhirnya kami berangkat menuju titik masuk jalur pendakian gunung Rogojembangan.

Seperti biasa pembagian posisi pasukan kami bagi, saya bersama saudara Rian menjadi pasukan perintis, sementara saudara Alvan menjadi pasukan penyapu. Langkah demi langkah kami tapaki, sesekali terdengar nafas tersengal-sengal di anatara kami, siulan yang mesra dari alam mengiringi perjalanan kami, sesekali terkadang nyanyian dan "guyonan" terlempar di antara kami untuk menyatukan jiwa kami, jiwa-jiwa petualang paraputra-putri ibu pertiwi.

Medan yang kami lalui benar-benar di luar skenario kami, jalan setapak serta tertutup semak belukar lebat menutupi jalan di depan kami, sambil berjalan kami singkirkan semak belukar yang rapat menutupi jalan , tentu saja dengan tekad mencapai puncak, dengan tangan kosong sebab kami tidak membawa pisau rimba atau alat tajam lainnya untuk membuka jalan, sungguh di luar skenario dan perkiraan kami. Sementara hujan tidak bosan-bosannya menghujami  kami.

Kira-kira setengah jam berselang sejak pintu gerbang kami masuk jalur pendakian, akhirnya sampailah kami di pos 1 gunung Rogojembangan, pasukan kami istirahatkan sejenak, sembari minum serta menikmati camilan yang kami persiapkan untuk perjalanan. Kami konsolidasikan rombongan dan saling memberi semangat satu sama lain, kami atur strategi dan mantapkan hati untuk melangkah kembali.

Perjalanan kami lanjutkan menuju puncak gunung Rogojembangan, tentu saja medan semak belukar lebat kembali kami jumpai, tanaman bambu, tebu, semak berduri menutupi jalanan yang kami lalui.

Menuju pos 2, saya dan saudara Rian selaku pasukan depan sejenak berhenti, saudara Rian yang berjalan di depan berhenti, memanggil saya yang di belakang kira-kira jarak 2 meter, saya pun berjalan menuju arah saudara Rian, saudara Rian pun menunjukkan telunjuknya ke sebuah pojok-an di sebelah kiri di sisi kiri jalan yang kami lalui.

Ternyata yang kami saksikan adalah sebuah lubang besar menganga, kira-kira berdiameter 50 cm, di sekitarnya nampak tumpukan tanah yang kelihatannya baru saja digali, nampak tunggul kayu melintang rubuh di tengah jalan menghalangi langkah kami, waktu menujukkan pukul 16:45 sore dengan kondisi hujan dan berkabut.

Sejenak kami tertegun, saya musyawarahkan dengan saudara Rian dan kami putuskan untuk mundur kembali, kami teriak kepada rombongan yang nampak masih agak jauh di belakang kami untuk balik kanan dan mundur, kami pun mundur dengan sejuta tanya menggelayuti, " lubang apakah tadi ? ".

Kami berjalan kembali ke pos 1, disitu kami berhenti dan saya uraikan kepada teman-teman apa yang kami lihat dan kenapa mundur kembali. Kami musyawarahkan, kami analisis bahwa lubang tadi adalah lubang babi hutan mengingat banyaknya tanaman tebu di sekitar kami, kami putuskan untuk mundur kembali ke base camp. Waktu menunjukkan pukul 17:30 sore, hujan dan kabut masih menderu seakan-akan menyuruh kami untuk kembali, dengan hati yang "legowo" kami berjalan kembali, demi keselamatan kami semua.

Sebuah perjalanan mundur yang seru karena medan berlumpur dan hujan lebat hingga kami berjatuhan terpeleset saling menimpa satu sama lain, sebuah perjalanan mundur seperti yang dilakukan Napoleon Bonaparte ketika mundur dari Rusia, atau perjalanan pasukan khilafah Utsmaniyah ketika gagal mengepung Wina, ahh ini terlalu dramatis, hehe.

Pesona Air Terjun Curug Lawe dan Curug Muncar menjadi Obat kegagalan yang manis


gambar Pesona Air Terjun Curug Lawe dan Curug Muncar menjadi Obat kegagalan yang manis

Pukul 18:30 kami sampai di rumah pak Pari selaku Polisi Desa desa Gumelem, kami ceritakan apa yg kami temui, akhirnya didapat kabar bahwa sudah 3 bulan kemarin jalur itu terakhir dilewati pendaki, itu semua bisa menjelaskan kenapa semuk belukar rapat menyelimuti jalan rute pendakian, serta kabar bahwa jalan dari pos 1 dari pos 2 adalah tempat berkumpulnya babi hutan. Alhamdulillah Tuhan masih menyayangi kami, apalagi saat itu kami tidak membawa senjata tajam untuk membela diri dari serangan hewan buas.

Di rumah pak Pari kami ganti pakaian karena semua basah kuyup, kami musyawarahkan untuk mejalankan planing B, dan kami putuskan untuk mengganti tujuan ke Curug Muncar di Desa Curug Muncar, masih satu wilayah kecamatan dengan Desa Gumelem. Kami berangkat ke Curug Muncar dengan perasaan yang cukup tidak karuan, pertama kami gagal menaklukan puncak, kedua jalan yang kami lalui menuju Curug Muncar hancur serta licin akibat Hujan, sepanjang jalan naik angkutan Mitsubishi L300 tidak henti-hentinya kami berdoa agar keselamatan selalu dilimpahkan kepada kami.

Alhamdulillah pukul 20:00 tanggal 26 November 2016 kami sampai di Desa Curug Muncar, disambut oleh ibu Wati selaku pengurus Home Stay dan kenalan kami, seperti biasa keramahan dari ibu Wati dan alam bukit pedesaan yang membeti semangat kami, kami jelaskan kepadaibu Wati maksud kedatangan kami. Kami pun dipersilahkan masuk ke rumah ibu Wati, tak berapa lama ibu Wati membawakan kami teh hangat, sebuah minuman yg pas untuk mengusir dingin dan rasa kecewa kmi karena gagal mencapai puncsk impian kami.

Akhirnya kami menginap di Home Stay/Penginapan di Desa Curug Muncar, dengan makan malam yang nikmat dari ibu Wati kami bersantap malam dengan lahap, diiringi nyanyian malam di Desa Curug Muncar, sebuah nyanyian yang mendamaikan hati, menyentil nurani petuslangan kami. Setelah itu kami pun tetidur pulas dengan ditemani dinginnya udara pegunungan, dan tentu saja kehangatan persaudaraan kami yang mengusir dingin yang menggigit.

Esok hari tanggsl 27 November 2016 hari minggu, pukul 06:00 kami semua bangundan menyiapkan diri menuju objek wisata Curug Lawe dan Curug Muncar yang termasyur sampai negeri Atas Anging, dengan langkah kaki yang segar karena diiringi sejuknya udara pagi pegunungan kami pun melangkah. Pukul 07:30 kami sampai di curug Lawe, kami pun bermumpul menikmati alam, sesi dokumentasi alias foto-foto tak lupa pula kami kerjakan. Hanya setengah jam kami di curug Lawe.

Pukul 08:00 kami menuju curug Muncar, berjalan melewati saluran irigasi, Pukul 08:30 kami sampai di Curug Muncar, sebuah "lukisan" Tuhan terpampang, sebuah keindahan. Nampak rembesan air menetes di sela-tebing tebing yang entah sudah berusia berapa ribu tahun.
Beberapa teman terjun mandi ke Curug Muncar, terdengar tawa canda bahagia di antara mereka menikmati suasana, itu semua menjadi ketenangan tersendiri buat saya.

Pukul 09:00 kami turun ke Penginapan, sesampai di penginapan kami sudah disambut sarapan pagi dari ibu Wati, ada menu sarimi rebus, telur dadar, serta tumis pepaya muda yang menggugah selera, kami pun makan dengan lahap pagi itu. Setelah makan kami pun berkemas-kemas dan membersihkan penginapan untuk selanjutnya kami pun pulang. Tak lupa Kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada ibu Wati.
Selama perjalanan diisi dengan tawa canda, apalahi setelah ada seorang kakek yang kami sebut dengan nama "Pakdhe" ikut di kendaraan yg kami tumpangi, celotehan Pakdhe lah yang membuat kami tertawa riang melepas kekecewaan kamiyg gagal menaklukan puncak Rogojembangan.

Alhamdulillah pukul 12:30 siang kami sampai di rumah, di rumah saya kami berkumpul sejenak mekepas lelah serta evaluasi kembali, kami bertekad akan kembali. Kami gagal kali ini, tetapi kami akan kembali. Kami gagal mencapai puncak, tetaoi kami berhasil menaklukan ego kami dan ambisi kami, tetap semangat para petualang Nusantara!, persaudaraan kita akan berhasil membawa kita ke puncak dunia!, Terimalah kegagalan kita dengan jiwa yang besar dan merdeka!, Merdeka! Cayo indonesia.

"Kejar dan gantungkan cita-cita mu setinggi langit, kalau engkau terjatuh maka engkau akan jatuh di antara bintang-bintang" (Bung Karno, Presiden RI Pertama)

Daftar Peserta pendakian Gunung Rogojembangan 2117 MDPL

Peserta pendakian Gunung Rogojembangan 2117 MDPL

1. Defrimă Prăwiră Jăyădi
2. Ady Sartika Sinatra
3. Fakamfani
4. Sukma Zahra
5. Lintang E Tito
6. Muhammad Alfarezel
7. Rian Sukmo Pratoto
8. Koko Josemourinho
9. Wildan Muqorrobin
10. Akmal Ghazali
11. Wong Gebrag's
12. Mohammad Ibnu Adam
13. Djomblo
14. Mitonkk
15. Sukma Muh. Rizqi. S

Catatan oleh Sukma Muh. Rizqi. S. Terimakasih telah membaca artikel Catatan kegagalan menggapai Gunung Rogojembangan Pekalongan  2117 MDPL, 2117 . Salam lestari cayo indonesia.