Pekalongan Pertempuran 3 Oktober 1945

Pekalongan 3 Oktober 1945 pukul 07.00 pagi matahari sudah mulai bersinar membakar semangat ribuan orang yang telah bergerombol memadati lapangan Kebon Rojo di seberang markas Kempeitai.

Mereka datang dengan bersenjatakan apa saja mulai dari keris, pedang, parang, tongkat besi hingga bambu runcing dengan berteriak kencang MERDEKA ,MERDEKA, MERDEKA..!!! Merdeka atau mati, dengan seruan takbir yang seakan tiada hentinya.

Djunaid berdiri di barisan paling depan di sebelah kiri Kyai Syafii dan Kyai Siraj, mereka memandang lurus pintu masuk markas Kempeitai. Tangan kanannya memegang tangkai keris yang masih terselip dipinggang kirinya. Di belakang mereka puluhan anak muda santri Kyai Syafii dan Kyai Siraj tetap bersiaga, berpakaian sederhana dan sarung yang diselempangkan.

Pekalongan Pertempuran 3 Oktober 1945
Pekalongan Pertempuran 3 Oktober 1945
Di sebelah mereka sekelompok anak muda mengikatkan merah putih di kepala, beberapa diantaranya memanggul senjata jenis AK II, mereka tampak tenang, tidak ada teriakan yang keluar dari mulut mereka, namun mereka juga tetap siaga menunggu komando Margono Jenggot selaku pimpinan.

Ada juga kelompok anak muda yang dipimpin oleh Syaichu, Tari, Abdul Kadir, Aziz Basarail, Agus Sutarto, Huzer Amin, Tarbin, Sanip, Trimo, Umar dan Fadholi, mereka berbaris rapi di depan markas Kempeitai.

Ada juga Sohir yang datang dari Comal dengan senjata cangkul dan sabit serta Kelompok dari Batang yang berpakaian hitam-hitam juga bersiaga di sisi utara dan selatan. Kelompok- kelompok yang terkoordinir dan memiliki pimpinan tampak berbaris rapi, dan ada juga anggota masyarakat lain yang jumlahnya ribuan juga berbaur di belakang mereka baik laki-laki ataupun perempuan.

Pekalongan 3 Oktober 1945  Pukul 09.45 dari arah utara rombongan delegasi Indonesia datang dengan berjalan kaki menuju markas Kempeitai. Tampak Mister Besar berjalan di urutan paling depan, diapit oleh Dr. Sumbadji dan Dr. Maas.

Di belakanya terlihat R. Suprapto, Kadir Bakri dan Jauhar Arifin. Kedatangan mereka dielu-elukan masa dengan teriakan lantang Hidup Republik Indonesia, jangan mundur dari tuntutan, hidup wakil -wakil rakyat Pekalongan.

Saat melihat rombongan delegasi Indonesia datang, masyarakat yang awalnya berbaris bubar dan merangsek mendekati rombongan, ada yang menyalami bahkan mengantar rombongan sampai ke pintu gerbang Kempeitai dengan sorakan dan teriakan "massa Jangan mau ditawar, jangan mundur dari tuntutan, berhasillah kami menunggu, kami tidak akan bubar sebelum bapak-bapak kembali, kembalilah dengan selamat ".

Teriakan-teriakan mereka membuat suasana makin panas dan tak terkendali. Seorang pemuda keturunan Arab menghampiri Margono Jenggot dan berkata "Mas Margono, ini bahaya Mas, mereka bisa jadi sasaran tembak tentara Jepang, lihat itu, tentara Jepang bersiaga dengan senjatanya di pintu masuk gedung". Kata Aziz Basarail pada Margono Jenggot sambil menunjuk.

"Ya, aku juga berpikir seperti kamu. Coba sampaikan pada Kiai Syafii dan kelompok yang lainnya agar mereka mencegah teman-teman kita mendekat markas Kempeitei, akan kuperintahkan anak buahku menarik mereka menjauhi Kempeitei, yang lain tetap siaga." Ucap Margono Jenggot.

"Siap Mas". Jawab Aziz Basarail.

Aziz Basarail berlari menghampiri Djunaid, meminta tolong memberikan informasi pada pemimpin barisan yang lainnya agar menjaga barisannya. karena Pasukan Margono Jenggot akan mengatasi rakyat yang mendekati gerbang markas Kempeitai, yang lain tetap siaga agar barisan tidak kacau. Djunaid segera bertindak.

Anak buah Margono Jenggot segera menahan orang-orang di gerbang yang berebut ikut masuk ke markas Kempeitei agar kembali ke dalam barisan. Diantara keributan itu tampak seorang pemuda yang membawa bendera merah putih yang diikatkan pada tongkat bambu seukuran tubuh mereka, menarik tangan temannya menjauhi kerumunan, pemuda itu berbisik, Kau lihat Bismo, di atas markas Kempeitei itu masih berkibar bendera Jepang.

" Setan jahanam! Jepang mau menipu kita Rahayu". Suara Bismo menggeram.

"Apa yang harus kita lakukan, Bismo?" tanya Rahayu.

" Ssttttttttt, ikut aku. Lepaskan benderamu."

Rahayu melepaskan bendera yang diikatkan pada tongkat yang dibawanya, lalu Bismo menarik tangan Rahayu berjalan perlahan menjauhi kerumunan menuju kampung kecil di sebelah utara markas Kempeitei.

Sementara itu Mister Besar bersama rombongan telah masuk ke dalam markas, rakyat kembali berkumpul dalam barisan.

Di sebuah ruang kosong kantor Syucho, tak jauh dari markas Kempeitei, sekelompok pemuda Indonesia telah menyandra 15 orang Jepang. Para pemuda tersebut mengancam akan membunuh orang-orang Jepang yang mereka sekap apabila perundingan tersebut gagal.

Pekalongan 3 Oktober 1945, Jam dinding kayu di dalam markas Kempeitei berdenting sepuluh kali, perundinganpun dimulai. Meja perundingan ditata menyerupai huruf U. Pihak Jepang duduk dalam satu baris menghadap ke barat, diantaranya adalah Syuchokan Tokonomi, Kempeitaidan Kawabata, Staf Kempeitei Hayashi dan Harizumi si penterjemah bahasa.

Sedangkan pihak Indonesia terbagi dalam dua baris terdiri dari baris utara dan baris selatan. Deret utara duduk Mister Besar, Dr. Sumbadji dan Dr. Maas, sedangkan yang berada di deretan sebelah selatan berturut-turut adalah R. Suprapto, A. Kadir Bakri dan Jauhar Arifin. Mister Besar membuka perundingan dengan terlebih dahulu memperkenalkan delegasi Indonesia, kemudian mengemukakan maksud dan tujuanya mengadakan perundingan dengan pihak Jepang.

Syuchokan Tokonomi mengangguk sambil tersenyum, matanya yang sipit menyapu wajah-wajah anggota delegasi Indonesia. Kempeitaidan Kawabata yang duduk di sebelah Syuchokan Tokonomi menyambut dengan senyum yang sinis, tubuhnya yang pendek gempal dan matanya yang nampak hanya sebuah garis saja itu nampak menyiratkan sikap yang tak bersahabat.

Takonomi bertanya " mengapa pihak Indonesia datang dengan membawa massa yang banyak".

"Indonesia datang membawa banyak pasukan seperti mau mengajak perang saja".Ujar Kawabata menimpali kesinisan Takonomi.

" Mereka rakyat Pekalongan yang hanya ingin menyaksikan pemindahan kekuasaan, karena peristiwa perundingan ini adalah tindak lanjut proklamasi kemerdekaan, yakni terlaksananya pemindahan kekuasaan pemerintah dari tangan Jepang kepada pihak Indonesia dengan damai, Kami bangsa Indonesia tidak menginginkan terjadi insiden yang dapat mengorbankan jiwa". Jawab Dr. Sumbadji.

Mendengar jawaban Dr. Sumbadji, Kempeitaidan Kawabata dan Hayashi saling berbisik. Namun delegasi Indonesia tidak mau terpengaruh dengan tingkah Kempeitaidan Kawabata dan Hayashi. Karena menginginkan perundingan cepat selesai.

Dr. Sumbadji langsung membacakan tiga pasal tuntutan, yaitu
  1. Pemindahan kekuasaan dilaksanakan dengan damai dan secepatnya; 
  2. Penyerahan senjata dari tangan Jepang adalah semua senjata yang ada ditangan Jepang baik yang ada di Kempeitai, Keibitei, maupun Jepang Sakura kepada pihak Indonesia; 
  3. Dan Memberikan jaminan pada pihak Jepang bahwa mereka akan dilindungi, diperlakukan dengan baik, dan dikumpulkan menjadi satu di Markas Keibitei. 
"Ya, ya, ya, Tentara Nippon sudah mendengar proklamasi yang dibacakan Soekarno di Jakarta, namun di daerah ini pemerintah Dai Nippon tidak bisa menerima keinginan pihak Indonesia, karena Dai Nippon masih berkewajiban menjaga status quo yang ada, untuk kepentingan keamanan dan ketentraman rakyat. 

Kami memahami tuntutan dari pihak Indonesia, tetapi kami terikat dengan Sekutu, sebelum ada perintah dari Dai Nippon di Jakarta, kami masih bertanggung jawab mempertahankan status quo. Jawab Tokonomi tegas."

"Sebenarnya soal pemindahan kekuasaan sudah tidak ada persoalan lagi, karena Jendral Terauchi telah berjanji waktu bertemu Bung Karno dan mengakui kemerdekaan Indonesia, bukankah sekarang sudah tepat pada waktunya ?" sanggah Dr. Maas.

Perundinganpun semakin alot saja, kedua pihak saling beradu argumentasi. Saat Harizumi sedang menterjemahkan pembicaraan Dr Sumbadji, tiba-tiba pintu ruang perundingan diketuk, seorang Kempeitai masuk memberikan hormat dengan cara membungkuk. Belum sempat dia melaporkan sesuatu, tiba-tiba terdengar letusan senjata dari luar ruangan dan kemudian disusul dengan teriakan lantang " serbu....,  serbu....., serbu....," berulang-ulang.

" Siapa yang menembakkan senjata!" teriak Mister Besar.

" Ini pasti siasat Jepang". Kadir Bakri geram, ia mengajak delegasi Indonesia menyelamatkan diri, mereka berlari melalui tembok samping kanan menerobos masuk ruang kantor Karesidenan.

Syuchokan Tokonomi, Kempeitaidan Kawabata, Hayashi dan Harizumi juga berlari menuju ruang lain dalam markas Kempeitei. Perundingan menjadi bubar tidak membawa hasil, suasana berubah menjadi kacau, rupanya Jepang sudah membuat siasat, dari dalam gedung mereka melepaskan tembakan dengan senapan mesin sehingga rakyat kacau balau dan banyak korban-korban warga pekalongan berjatuhan.

Akan tetapi rakyat pekalongan tidak gentar , mereka tidak mau mengalah begitu saja. Di luar gedung, suara tembak-menembak bersahutan antara rakyat yang di luar gedung dan pihak Kempeitai, disusul juga beberapa suara rentetan bunyi metraliur dan teriakan - teriakan takbir. Saat itu juga markas Kempeitai dikepung rapat oleh rakyat pekalongan. Rakyat yang berkumpul di Kebon Rojo marah, mereka mengepung markas Kempeitei meski menjadi sasaran tembakan senapan mesin Kempeitai.

Melihat hal tersebut Amarah mereka makan membara, meluap dan tanpa komando, mereka langsung menyerbu markas Kempeitai, ada yang melalui pintu masuk, ada yang memanjat tembok keliling gedung, ada juga yang menaiki atap gedung. Mereka punya satu tujuan yaitu menghancurkan dan juga merampas senjata Jepang walaupun senjata yang mereka bawa seadanya.

Pasukan Margono Jenggot, Kyai Syafii dan Kyai Siraj perlahan merangsek masuk markas, Mereka membunuh setiap tentara Jepang yang dijumpainya. Banyak pula yang mati terkoyak dan tertembus peluru senapan tentara Jepang. Perlawanan yang tak seimbang itu berlangsung sekitar satu jam. Sungguh menyayat hati, Markas Kempeitai banjir darah, darah warga pekalongan yang ingin mempertahankan Kemerdekaanya.

Djunaid bersama Singgih, Kuswadi, Suharjo dan Sarino menerobos kawat berduri di markas Kempeitei, mereka masuk mencari delegasi Indonesia, Mereka ingin memastikan kalau Mister Besar dan rombongannya selamat. Namun ruang perundingan telah sepi, Djunaid dan kawan-kawannya justru terjebak dan tak bisa keluar dari ruang perundingan tersebut.

Di atas gedung markas Kempeitei, dengan keberaniannya Rahayu dan Bismo berhasil merobek - robek bendera Jepang, dan lalu menggantinya dengan bendera sang saka merah putih sebagai tanda bahwa Indonesia, pekalongan telah merdeka. Dua peluru yang dilepaskan tentara Jepang seketika itu langsung bersarang di tubuh Rahayu dan Bismo, mereka terjatuh dengan tangan tetap menggenggam sang saka merah putih .

15 orang Jepang yang disandera sekelompok pemuda di ruang kosong kantor Syucho, akhirnya dibunuh tanpa kenal ampun. Darah segar membasahi lantai diantara gelimpangan mayat-mayat orang Jepang, bau anyir memenuhi ruangan itu.

Setelah pertempuran yang tidak seimbang itu reda, rakyat membubarkan diri. Terlihat banyak Korban bergelimpangan di sekitar Markas Kempeitai. Ada yang terluka dan banyak pula yang tewas. Suasana berubah menjadi sunyi sepi, hanya ada beberapa anggota Kempeitai yang berjaga-jaga di luar markas dengan bayonet terhunus. Beberapa orang pejuang pekalongan menjadi tawanan Jepang, diantara tampak Suhardjo, Sudjono, Kuswadi, Singgih, Sarino dan Djunaid.

Malam selepas pertempuran 3 Oktober 1945. Suasana di kota Pekalongan sangat mencekam, orang-orang tak berani keluar rumah, mereka khawatir bila Kempeitai membalas dendam terhadap rakyat Pekalongan. Diam-diam para pemuda berjalan mengendap - endap mendekati markas Kempeitai, Mereka memotong kabel mematikan aliran listrik, telepon, serta air minum yang mengalir ke markas Kempeitei.

Beberapa hari kemudian karena kesulitan mendapatkan listrik, air minum dan telepon karena telah dimatikan para pemuda, Jepang akhirnya mengibarkan bendera putih. Para tawananpun dibebaskan, dan akhirnya mereka dapat kembali berkumpul bersama sanak keluarga, orang tua, istri dan juga anak-anaknya.
Moumen 3 oktober 45 menjadi Masjid Asy-Syuhada
Tempat ini sekarang menjadi Masjid Asy-Syuhada

Masjid Asy-Syuhada yang beralamat di Jl. Pemuda No. 52-54 Kota Pekalongan. Lokasi tepatnya berada di depan Monumen Joeang 45 Pekalongan. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia yang saat itu dijabat oleh KH. Abdurrahman Wahid, tanggal 26 Februari 2000.

Mengapa dinamakan Masjid Asy-Syuhada ?
Penamaan ini sebagai penghormatan kepada para pejuang yang telah gugur (syahid) di markas Kempetai yang sekarang ini telah menjadi masjid ini. Di lokasi inilah pada tanggal 3 Oktober tahun 1945 terjadi pertempuran besar-besaran warga pekalongan melawan pendudukan Jepang yang banyak memakan korban jiwa dalam upaya mempertahankan Kemerdekaan. Namun Alkhamdulilah pengorbanan Mereka tak sia-sia, karena para pejuang akhirnya berhasil mengusir dan membuat tentara jepang menyerah pada tanggal 7 Oktober 1945.

JASMERAH. Janganlah sekali - kali melupakan sejarah dan pahlawan kemerdekaan Indonesia. Karena sebab jasa - jasa Mereka begitu besar hingga Kita saat ini bisa merasakan Kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dahulu dengan nyawa Mereka. #CAYOINDONESIA



Sesampai di rumah, Ummi Solechah memeluk suaminya dengan erat, ada air mata sebening kristal yang mengalir dipipinya. TangiIs haru bahagia Ummi Solechah untuk orang yang dicintainya, karena mereka akhirnya dapat berkumpul kembali.

"Ini perjuangan kita Chah, penuh resiko dan penderitaan. Aku ikut berdosa jika aku diam saja, aku harus membantu bangsa ini mewujudkan kemerdekaannya, aku harus menjaga kesucian sang saka merah putih agar tetap mulia berkibar di bumi Indonesia, semoga kamu ikhlas memiliki suami sepertiku". Bisik Djunaid.

Insya Allah, aku ikhlas dengan perjuangan Bapak. Pelukan Ummi Solechah semakin kuat, dan tangisnya telah berhenti menjadi senyuman. Source : Mahakarya - Ibnu Novel Hafidz.

Terimakasih telah membaca artikel Pekalongan Pertempuran 3 Oktober 1945. Semoga bermanfaat | Ayo Share dan sebarkan.