Sejarah Asal - usul dari Ikan Mujair

Ikan Mujair adalah merupakan jenis ikan air tawar yang bisa dikonsumsi. Penyebaran alami ikan mujair adalah di perairan Afrika dan juga di Indonesia. Nama ilmiah ikan mujair adalah Oreochromis mossambicus, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Mozambique tilapia, atau terkadang juga secara tidak tepat disebut "Java tilapia".

Ciri-ciri dari ikan mujair adalah ikan ini berukuran sedang, panjangnya  total maksimum yang dicapai ikan mujair adalah sekitar 40 cm. Bentuk badan ikan mujair pipih dan memiliki warna hitam, keabu-abuan, kecoklatan atau juga kekuningan. Sirip punggung ikan mujair  memiliki 15-17 dengan duri tajam dan juga memiliki duri berujung lunak
ikan mujair
Sejarah Asal - usul dari Ikan Mujair 
Ikan mujair ini memiliki toleransi yang besar terhadap kadar garam (salinitas), sehingga ikan mujair dapat hidup di air payau. Jenis ikan ini memiliki kecepatan pertumbuhan yang relatif cepat, namun setelah dewasa, pertumbuhanya akan menurun.

Ikan mujair mulai berbiak pada saat umur sekitar 3 bulan, dan setelahnya dapat berbiak setiap satu setengah bulan sekali.  Puluhan butir telur yang telah dibuahinya  akan ‘dierami’ dalam mulut induk betinanya, sekitar seminggu hingga menetas. Dan hingga saat beberapa hari setelahnya pun, mulut tersebut tetap akan menjadi tempat perlindungan bagi anak-anak ikan mujair yang masih kecil, hingga anak-anaknya siap disapih oleh induknya.

Dalam waktu beberapa bulan saja, populasi ikan mujair dapat meningkat begitu pesat. Apalagi ditambah ikan mujair ini cukup mudah beradaptasi dengan aneka lingkungan perairan dengan kondisi ketersediaan makananya.

Sejarah Asal - usul dari Ikan Mujair

Sejarah ikan mujair berawal dari tahun 1936, yaitu pada saat Belanda masih di Indonesia. Pada saat itu terdapatlah seorang pegawai desa dari Desa Papungan, Kanigoro, Blitar jawa tengah yang pergi ke Teluk Serang yang terletak di laut selatan.

Nah sesampainya Ia di sana, pegawai tersebut menangkaplah 5 ekor ikan berbeda yang tidak diketahui jenis ikanya tersebut. Dan lalu Ia kemudian membawanya pulang kelima ekor ikan tersebut dan melepaskan kelima ikan tersebut di empang pekarangan rumahnya.

Selang berapa bulan dari kelima ekor ikan yang dilepaskanya tersebut, ternyata ada seekor ikan yang berkembang dengan cepat. Ikan tersebut bahkan dapat bertelur dan menyimpan telurnya tersebut di dalam mulutnya hingga masa menetas dan menjadi anak ikan.

Hal tersebut hingga diketahui oleh para Warga desa hingga mereka menjadi heran dan lalu mereka berbondong-bondong datang untuk melihat kejadian yang dianggap aneh tersebut.
Kabar kehebohan tersebut lalu hingga terdengar kepada seorang Belanda bernama Schuster.

Schuster adalah merupakan kepala penyuluhan perikanan di Jawa di era Belanda.
Schuster merasa penasaran dan lalu kemudian Ia mengunjungi pegawai desa Papungan tersebut untuk melihat ikan itu. Akhirnya Schuster melakukan penelitian dan ternyata ikan tersebut diidentifikasi sebagai Tilapia Mossambica yaitu jenis ikan yang berasal dari Afrika.

Menurut K. F. Vaas dan A. E. Hofstede dalam Studies on Tilapia Mossambica Peters (ikan Mujair) in Indonesia. Pada November 1939 Schuster menghadiri konferensi ahli perikanan dan ia mengemukakan tentang temuan ikan Tilapia Mossambica di pulau Jawa.

Dan semenjak itu pemerintah kolonial Belanda menaruh perhatian tinggi terhadap ikan Tilapia Mossambica tersebut. Karena pertumbuhan ikan itu cepat, perawatan tak ribet dan mudah beradaptasi di rawa-rawa, maka pihak kolonial belanda membudidayakan ikan tersebut secara besar-besaran. Dan bahkan pada masa pendudukan Jepang, para serdadu Jepang, membawa ikan tersebut ke seluruh penjuru nusantara untuk dibudidayakan di tambak-tambak.

Lantas lalu kenapa akhirnya Ikan ini bisa dinamakan sebagai ikan Mujair ?

Jadi Pegawai Desa Papungan yang pertama kali menemukan ikan tersebut, ia bernama Bapak 'Moedjair.' Saat pendudukan Jepang di indonesiapun, Pak Moedjair juga diangkat menjadi pegawai negeri sipil karena melihat jasanya yang telah mengembangbiakkan ikan tersebut, bahkan hingga setelah enam tahun Indonesia merdeka, Moedjair mendapatkan surat tanda jasa dari Kementerian Pertanian atas usaha serta perintisanya dalam perkembangan ikan mujair.

Bapak Moedjair wafat pada tanggal 7 September 1957, namun ikan mujair yang telah ditemukan dan dikembang biakanya akan selalu ada dan menjadi santapan favorit masyarakat Indonesia.

Pada masa Orde Baru, saat itu Pemerintah Indonesia melakukan penyebaran secara besar-besaran bibit ikan mujair di seluruh waduk dan pekarangan rumah di seluruh Indonesia.

Profil Biodata Pak Moedjair penemu Ikan Mujair


Profil Biodata Pak Moedjair penemu dan pengembangbiak Ikan Mujair di Indonesia

Profil Biodata Pak Moedjair penemu dan pengembangbiak Ikan Mujair di Indonesia
Pak Moedjair penemu dan pengembangbiak Ikan Mujair di Indonesia
Pak Moedjair
Mbah Moedjair atau Pak Mujair yang bernama asli Iwan Dalauk, adalah seorang warga Blitar yang pertama kali menemukan dan membudidaya ikan mujair pada jaman Hindia Belanda.

Pak Moedjair 1890-1957.
Mbah Moedjair lahir tahun 1890 di Desa Kuningan dekat kota Blitar. Nama ayahnya adalah Bayan Isman dan nama ibunya adalah Rubiyah, Mbah Moedjair meninggal tahun 1957 karena sakit asma, dan dikuburkan di Blitar.
Ikan Mujair.

Mbah Moedjair ini menemukan ikan mujair ketika sedang menangkap ikan di muara Sungai Serang selatan Blitar tahun 1939. Beliau pada pertama kali menemukan ikan tersebut merasa tertarik akan kebiasaan induk ikan "menelan" anak-anaknya ketika ada bahaya dan memuntahkannya ketika sudah aman, sehingga dia berniat untuk memeliharanya.

Terimakasih telah membaca artikel Sejarah Asal - usul dari Ikan Mujair . Semoga bermanfaat | Ayo Share dan sebarkan.