Sejarah Lengkap Klub Sepak Bola Persip Pekalongan

Persip Pekalongan adalah merupakan klub sepak bola Indonesia anggota PSSI dari Kota Pekalongan yang hingga sekarang masih bermain di Divisi Utama Liga Indonesia.

Kesebelasan Persip Pekalongan berdiri pada tahun 1948. Klub sepak Bola Persip Pekalongan ini memiliki julukan Laskar Kalong.

Tim Kebanggaan Masyarakat Pekalongan ini biasa di kenal dengan sebutan ( Pekalongan Raya). Raya yang berarti besar meliputi wilayah Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kota Kajen. Kesebelasan Persip Pekalongan memiliki suporter fanatik yang terkumpul dalam Kalong Mania.

Persip Pekalongan bermarkas di Stadion Kota Batik ( Kompleks Olah Raga Kraton) Kota Pekalongan yang di tahun 2017 stadion ini berubah nama menjadi Stadion Hoegeng dengan kapasitas stadion mencapai 20.000 Penonton.

Profil Biodata Klub Sepak Bola Persip Pekalongan
Sejarah Klub Sepak Bola Persip Pekalongan
Persip Pekalongan
Profil Persip Pekalongan
  • Nama lengkap : Persatuan Sepak Bola Indonesia Pekalongan ( PERSIP )
  • Julukan : Laskar Kalong
  • Didirikan : 1948
  • Nama Stadion : Stadion Hoegeng Pekalongan
  • Kapasitas Penonton : 20.000
  • Asal klub : Pekalongan, Jawa Tengah Indonesia
  • Level Kompetisi saat ini : Liga Divisi Utama Liga Indonesia
  • Kelompok Suporter : Kalong Mania
Sejarah Persip Pekalongan

Sejarah Lengkap Klub Sepak Bola Persip Pekalongan
Laskar Kalong Persip Pekalongan
Sepakbola sebagai olahraga rakyat dan kehadirannya di Pekalongan ternyata juga mempunyai sejarah yang panjang. Sejak zaman kolonial sekitar tahun 1920 jauh sebelum PSSI Berdiri ( Sejarah PSSI terbentuk pada tahun 1930), Sepakbola sudah menjadi kegiatan yang banyak di mainkan dan ditonton warga Pekalongan saat itu.

Dahulu kala di pekalongan kehadiran tamu klub asal negara eropa, yaitu dari Austria yang sempat bertanding dengan tim lokal pekalongan, bertempat di alun-alun kota pekalongan. Salah satu klub Sepakbola tertua di pekalongan yang pernah tercatat yaitu Klub Sepakbola THH, klub ini milik warga Tionghoa di pekalongan.

Hebatnya lagi seperti yang tercatat di buku Voetbal 40 Jarr in Nederlands indie, 1894-1934 karya W.Berrety. Klub THH Pekalongan adalah merupakan salah satu klub sepak bola yang mengikuti kompetisi yang diadakan NIVU ( Nederlandsche Indishe Voetbal Unie ) bahasa indonesianya adalah Serikat Sepak Bola Hindia Belanda, yaitu perkumpulan sepakbola yang dilaksanakan oleh Hindia Belanda.

Tidak mengherankan jika jejak sejarah itu kini mulai dirintis kembali oleh Persip Pekalongan yang walau hingga sampai saat ini hanya mampu menembus kasta kedua Liga indonesia yaitu Divisi Utama PSSI. Meskipun begitu Persip Pekalongan tetap dicinta warga Pekalongan terutama suporter setia dan fanatiknya Kalong Mania.

Hadirnya KLUB SEPAKBOLA DI PEKALONGAN, memiliki sejarah panjang dan mengakar. Pada era dekade 1950 - 1960, prestasi sepakbola di Pekalongan mulai terangkat naik. Kesebelasan Persip waktu saat itu, selalu menjadi langganan uji coba Tim Nasional Indonesia asuhan pelatih legendaris Toni Poganic.

Perlu diketahui Toni Pogacknik adalah salah satu pelatih legendaris timnas Indonesia yang didatangkan dari Yugoslavia di era kepemimpinan Ketua Umum PSSI Maladi . Pelatih yang akrab dipanggil Tony ini memang sering terlibat langsung dalam memberikan dasar-dasar teknik sepak bola pada pemain muda. Dia bukan tipikal pelatih yang puas dengan sekadar memberi instruksi.

Dalam masa singkatnya sebagai pelatih timnas Indonesia, Toni berhasil membawa timnas meraih berbagai kemajuan diantaranya meraih tiket semifinal pada Asian Games 1954 di Manila, menahan imbang Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956, dan merebut medali perunggu pada Asian Games 1958 di Tokyo.

Demikian ungkap pemain legendaris Persip Pekalongan dan juga mantan Pemain Nasional Mubarak Sulaiman. Menurutnya, saat itu Persip Pekalongan selalu menjadi pilihan lawan tanding Timnas Indonesia. Pardeteks dan Persija yang waktu itu juara Perserikatan juga sering meminta ujicoba sebelum mereka melakoni pertandingan internasional di jepang, ungkapnya.

Dahulu kala lapangan stadion pekalongan selalu menjadi lokasi ajang pertandingan Persip melawan klub - klub besar tanah air seperti, Persebaya Surabaya, PSM Makasar, PSIS Semarang, Putra Parahiyangan Bandung, UMS 80, Jayakarta dan mahesa Jakarta. Diakuinya, dahulu setiap hari jumat hampir pasti ada pertandingan melawan klub-klub besar indonesia di stadion kraton pekalongan. Seringnya Persip melakukan pertandingan itulah akhirnya para pemainya terpantau dan bisa masuk Tim Nasional indonesia.

Meski kala itu belum ada siaran live sepak bola di Televisi seperti sekarang, namun antusiasme warga pekalongan dengan sepakbola sangat tinggi. Waktu itu sepakbola sangat di gandrungi merata hampir di setiap sudut kampung di pekalongan.

Bahkan hingga sampai warga batang, Comal, pemalang selalu berduyun-duyun datang ke stadion Kraton dengan naik sepdeda ontel, oplet, gelinding, dokar, ungkap Mubarak Sulaiman Kelip yang kini tinggal di salah satu rumah di jalan H.Agus Salim Pekalongan.

Sejarah Persip Pekalongan Disegani Lawan
Tak hanya Persip yang menjadi idola kala itu, tapi juga ada klub sepakbola dari pekalongan yang juga disegani kiprahnya oleh tim dari luar pekalongan. Sebut saja kesebelasan Al-Hilal dan POP, kedua klub ini memiliki segudang pemain muda berbakat, hingga beberapa diantara pemainya ada yang memperkuat timnas Indonesia kala itu.

Menurut Farid Akhwan budayawan yang tinggal di pekajangan, Ia mengatakan bahwa cukup banyak pemain-pemain legendaris PS.POP yang ngetop waktu itu seperti Kasmuri dan beberapa pemain hebat lainnya.

Kita mengenal kakaknya Kasmuri yaitu Wahyono yang bermain sebagai gelandang. Lalu Sukirman Pemain kanan dalam. Barki kiri luar. Barki ini mengingatkan kita pada Ryan Giggs pemain sayapnya MU.

Juga ada Slamet palang pintu POP. ada Babud, back kanan handal. Djasdan yang gayanya mirip Edwin Van de Sar, lalu ada kipernya tim Nasional papar Farid yang juga mantan politisi serta anggota DPR.

Demikian dengan PS-Al-hilal, yang sebagian besar pemainnya keturunan Arab. Klub yang mempunyai markas di lapangan sorogenen ini, sangat hebat dan disegani. Permainanya terkenal dengan permainan bola sambanya ala Brazil.

Pemain-pemain legendarisnya, ada Dillah, Ali Kelip (mantan rektor Unissula), dan yang tak terlupakan pastilah Saleh Saqbal, kiper handal Al-Hilal yang pernah menggagalkan tendangan geledeknya Ramang pemain legendaris PSM Makassar saat bertanding di Stadion Kraton Pekalongan tandas Farid.

Dulu mereka hebat, karena sepakbola benar-benar dikelola dengan prinsip-prinsip tata kelola yang baik. Seperti layaknya diposisikan sebagai industri hiburan dan dikelola juga dipimpin oleh orang-orang yang bener-bener mengerti soal falsafah sepakbola, tambah farid.

Jejak kejayaan sepakbola pekalongan sepertinya, perlahan mulai bangkit, meski tak sehebat dulu. Kini Persip pekalongan mulai beranjak naik dengan berada di level Divisi Utama liga indonesia. Harapan Saya sebagai warga pekalongan semoga suatu saat nanti Laskar Kalong Persip Pekalongan bisa merasakan ketatnya persaingan Liga 1 Indonesia. Semoga lahir generasi - generasi Kasmuri dan Mubarak Kelip muda yang bisa menembus Timnas Indonesia.

Sejarah Pemain Persip Pekalongan yang membela Timnas Indonesia 
Muhammad Ridho Djazulie Timnas Indonesia
Muhammad Ridho Djazulie
Akhirnya selama penantian panjangnya, Muhammad Ridho mendapat panggilan untuk mengikuti pemusatan latihan tahap kedua timnas U-23 Indonesia untuk persiapan Asian Games 2018.  Putra asal Baros, Kota Pekalongan, Jawa Tengah yang saat ini bermain untuk klub Borneo FC itu dipanggil untuk pemusatan latihan bersama tiga kiper lainya  yang sebelumnya pernah memperkuat timnas Indonesia yakni Andritany Ardhiyasa, Satria Tama, dan Kurniawan Kartika Ajie.

Dalam sejarah Pekalongan Muhammad Ridho Djazulie tercatat menjadi orang ketiga asal Pekalongan yang sukses masuk Timnas Indonesia senior. Sebelumnya ada nama Kasmuri yang berhasil masuk skuad Timnas Indonesia pada Olimpiade Melburne 1958 dan Mubarak Sulaiman Kelip yang masuk Timnas untuk ajang Asia Games 1962.

Masuk Timnas bagi Ridho merupakan kebanggaan juga penantian panjang, karena sebelumnya pada Juni 2013 saat Ia menjadi Kiper ke 2 Persip Pekalongan, Ia juga pernah dipanggil untuk mengikuti seleksi Timnas Indonesia U-23 asuhan Rahmad Darmawan kala itu, dimana Timnas U-23 ini akan diproyeksikan untuk ajang Sea Games Myanmar.

Saat itu Ridho bergabung bersama dengan 23 pemain lain dari berbagai klub indonesia air untuk mengikuti tahapan seleksi timnas di Jogjakarta tanggal 5 - 8 Juni 2013. Sayang dia gagal bersaing dengan kiper Timnas lainya saat itu.

Selain Muhammad Ridho di bulan September 2016 tiga pilar utama Persip Pekalongan juga dipanggil ikut seleksi Timnas U-19 yang dipersiapkan tampil pada Piala AFF Hanoi, Vietnam. Tiga pemain yang dipanggil adalah Awan Setho Raharjo (kiper), Muhammad Rizky Ramadhan dan Ibrahim Sanjaya (bek). Saat itu ketiga pemain muda tersebut jadi andalan utama bagi Laskar Kalong mengarungi kerasnya persaingan ISC B.

Ini membuktikan bahwa Pekalongan memiliki talenta muda berbakat dalam sepak bola. Dan mudah-mudah ke depan muncul lebih banyak lagi pemain-pemain muda yang mampu berprestasi mengharumkan nama Bangsa dan daerah kelahiranya. Jadi jangan patah semangat adik-adiku yang di pekalongan. Jika Kalian mau kerja keras, Saya yakin suatu saatnanti Kalian juga mampu.

Profil Stadion Stadion Hoegeng Pekalongan

Profil Stadion Stadion Hoegeng Pekalongan
Stadion Hoegeng Pekalongan
Stadion Kota Batik adalah sebuah Stadion Sepak Bola di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang juga merupakan markas klub sepak bola Persip Kota Pekalongan. Dalam Memeriahkan Hari Jadi Kota Pekalongan yang ke-105 1 April 2011 nama Stadion Kraton pada Jumat 18 Maret 2011, diubah menjadi Stadion Kota Batik.

Kembali di tahun 2017, Stadion kebanggaan warga Kota Pekalongan, resmi berubah nama menjadi Stadion Hoegeng. Nama stadion tersebut terinspirasi dari seorang Jenderal bernama Hoegeng yang merupakan polisi jujur yang lahir di Pekalongan.

Peresmian nama Stadion Hoegeng saat itu dihadiri langsung oleh istri almarhum Jenderal Hoegeng, Mary Hoegeng, yang ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Wali Kota Pekalongan Alf Arslan Djunaid, pada hari Jumat (21/4/2017).

Menurut Keterangan Ketua KONI Kota Pekalongan H Risca Mangkulla, pemberian nama itu disesuaikan dengan budaya batik yang kini sudah terkenal di manca negara. Stadion ini dibangun pada tahun 1986 Kemudian direnovasi tahun 2005. Stadion Kota Batik memiliki kapasitas 20.000 tempat duduk.

Sejarah Suporter Persip Kalong Mania

Sejarah Suporter Persip Kalong Mania
KALONG MANIA terbentuk dari gabungan nama – nama Suporter Persip Pekalongan seperti BATMAN (Batik Mania) dengan logo Kelelawar, di Medono ada Lowo Biru, ada Serdadu Grogolan, Panther (Panjang Suporter) Sneper Bendan, Krapyak, Yosorejo ada juga dari Kabupaten Pekalongan dan masih banyak lagi tersebar di seantero pekalongan hinga keduwungi wonoppringgo kajen.

Kalong Mania
Suporter Persip Kalongmania
Di awal Maret Tanggal 11 Tahun 2006 kelompok-kelompok supoter setia Persip ini akhirnya menyatakan bersatu menjadi satu Nama yaitu Kalong Mania. Rapat Pembentukan Kalong Mania dilaksanakan di rumah H. Budi Setiawan ( yang pada waktu itu belum masuk dalam Persip Pekalongan ). Demikian Sejarah Lengkap Klub Sepak Bola Persip Pekalongan, semoga bermanfaat dan tetap semangat Persip Laskar Kalongku. #cayoindonesia.